Dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Aisyiyah Qur’anic Boarding School (AQBS) Ponorogo menyelenggarakan kajian keislaman bersama Ustadz Azid Syukroni, M.Pd.I. di Masjid AQBS, Jum’at (16/01/26) pukul 09.00 WIB
Kegiatan diikuti oleh seluruh santriwati AQBS serta ustadz dan ustadzah dengan penuh kekhidmatan. Ustadz Azid dalam pemaparannya menekankan bahwa nikmat Allah SWT tidak pernah dapat dihitung dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Allah memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki, sesuai dengan hikmah dan ketetapan-Nya.
Isra’ Mi’raj di Luar Logika, Namun Wajib Diimani
Ia pun memberikan contoh nyata dari perjalanan para nabi. Nabi Adam AS diturunkan dari surga ke dunia, sedangkan Nabi Muhammad SAW justru diangkat dari dunia menuju langit dan surga dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Perjalanan Isra’ Mi’raj memang tidak dapat diterima oleh logika manusia biasa, namun jika Allah sendiri yang memperjalankannya, maka hal tersebut menjadi sesuatu yang sepenuhnya mungkin dan wajib diimani,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ustadz Azid juga menyampaikan kisah keteladanan seorang wanita salehah bernama Mashitoh, tukang sisir keluarga Fir’aun. Di tengah kekuasaan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan tertinggi (ana rabbukumul a’la) dan masyarakat Mesir yang menyembah banyak tuhan, Mashitoh tetap teguh beriman kepada Allah SWT.
“Keimanan Mashitoh diketahui ketika sisirnya terjatuh dan ia mengucapkan kalimat thayyibah yang menyebut Asma Allah,” terangnya.
Peristiwa tersebut, lanjutnya, sampai kepada Fir’aun. Mashitoh pun diinterogasi dan dihadapkan pada hukuman yang sangat kejam: ia dan keluarganya akan dimasukkan ke dalam air mendidih jika tidak mau melepaskan keimanannya kepada Allah.
Satu per satu anggota keluarganya, mulai dari anak hingga suaminya, dimasukkan ke dalam air mendidih karena mempertahankan iman. Bahkan ketika tiba giliran bayi Mashitoh, dengan izin Allah sang bayi berbicara, meneguhkan ibunya bahwa keimanan kepada Allah lebih utama daripada segalanya. Keluarga Mashitoh pun wafat dalam keadaan menjaga iman mereka kepada Allah SWT.
Ustadz Azid kemudian mengaitkan kisah tersebut dengan sebuah hadits riwayat Muslim nomor 81:
“La tadkhulul jannata hatta tu’minu, wa la tu’minu hatta tahabbu.”
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidak sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai.”
Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk keimanan adalah mengimani Rasulullah SAW sepenuhnya, termasuk meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi tidak hanya dengan ruh, tetapi juga dengan jasad beliau.
Bentuk keimanan lainnya adalah tahabbu, yaitu saling mencintai dan rukun dengan sesama. Menjaga kerukunan, berprasangka baik (husnudzan), serta menjauhi su’udzan merupakan bagian dari iman. Ustadz Azid mengingatkan agar tidak mencari-cari aib orang lain dan tidak mengumbar aib sesama, karena siapa yang menutup aib orang lain, maka Allah akan menutup aibnya.
Fakta dan Refleksi dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
Beberapa fakta menarik terkait Isra’ Mi’raj juga tak luput disinggungnya. Di Masjidil Haram terdapat sebuah tiang bernama Tiang Buraq yang berwarna agak kemerahan, tempat Buraq berhenti. Selain itu, di pondasi Ka’bah sebelah kanan terdapat batu berwarna kecoklatan yang bukan sekadar ornamen, melainkan diyakini sebagai tempat Rasulullah SAW memulai perjalanan Isra’.
Ustadz Azid juga menyampaikan refleksi menarik tentang tiga golongan manusia yang sebenarnya patut kita syukuri keberadaannya, meskipun terkadang terasa tidak menyenangkan, yaitu:
1. Orang yang bakhil (pelit),
2. Orang yang memutus tali persaudaraan,
3. Orang yang berbuat zalim.
Melalui keberadaan mereka, seorang mukmin memiliki kesempatan untuk meraih surga melalui tiga amalan utama, yaitu:
1. Berbuat baik kepada orang yang baik maupun yang tidak baik kepada kita,
2. Menyambung silaturahmi kepada orang yang memutus hubungan,
3. Memaafkan orang yang berbuat zalim kepada kita.
Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj diperlihatkan surga, termasuk sebuah istana megah yang disediakan bagi orang-orang yang kaya akan amal saleh, bukan sekadar kaya harta. Salah satu amalan yang dijanjikan istana di surga adalah membangun masjid.
Ustadz Azid menutup kajiannya dengan menekankan bahwa urusan dengan Allah lebih mudah diselesaikan dibandingkan urusan dengan sesama manusia. Dosa kepada Allah dapat dihapus dengan istighfar dan memperbaiki diri, sedangkan dosa kepada manusia harus diselesaikan dengan meminta maaf dan memperbaiki hubungan.
Ia lalu mengajak seluruh santriwati untuk bersyukur karena termasuk golongan orang-orang yang beruntung, yaitu:
1. Menjadi umat Nabi Muhammad SAW,
2. Beriman kepada Rasulullah SAW dengan syariatnya,
Sumber : https://muhammadiyahponorogo.or.id/peringati-isra-miraj-aqbs-ponorogo-gelar-kajian-keimanan/